
Pengusaha, ya pengusaha. Atau juga disebut bussinessman. Sudah ada begitu banyak orang yang bekerja sebagai pengusaha. Banyak contohnya, kau pun seharusnya sudah tahu. Tidak usah dikasih contoh, nanti jadinya panjang. Diantara kita, atau malah semua, bisa jadi juga punya keinginan jadi pengusaha. Katanya, untuk jadi pengusaha kita harus pintar, harus bisa cari peluang, juga harus punya banyak akal kalau ga mau diakali orang. Kata-kata sukses pun seringkali dikait-kaitkan dengan pengusaha. Beberapa buku-buku yang membahas kesuksesan sangat suka sekali menceritakan kisah-kisah sukses seorang pengusaha. Jarang ada buku yang memberikan contoh seorang guru ataupun seorang ilmuwan. Entah kenapa saya pun tidak tahu, mungkin bisa jadi karena pengusaha lebih menghasilkan uang daripada guru maupun ilmuwan. Apakah jumlah uang itu parameter kesuksesan? Saya juga tidak tahu. Setiap orang bisa punya definisi berbeda-beda tentang kesuksesan.
Balik lagi ke persoalan pengusaha. Pengusaha pasti punya buruh. Tidak mungkin seorang pengusaha sendirian menjalankan usahanya. Selalu ada orang-orang yang bekerja sebagai buruhnya. Jumlah buruhnya bervariasi, tergantung jenis usaha dan skala usahanya. Tapi yang namanya buruh jelas lebih banyak dari pengusahanya. Pengusaha pakaian pasti punya buruh yang membuat pakaian-pakaian yang dijual si pengusaha. Ada juga buruh yang menjualkan pakaian ini ke konsumen. Ada buruh yang mengantarkan pakaian ke rumah konsumen apabila dipesan. Ada buruh yang menjaga toko si pengusaha agar tidak kemalingan. Ada juga buruh yang mencatat keuntungan dari usaha jualan si pengusaha. Buruh mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan langsung oleh si pengusaha. Lantas apa tugas si pengusaha? Macam-macam. Bisa mengonsep usahanya agar terus berjalan, tidak kalah oleh saingan, mendapat keuntungan sebesar mungkin, memperoleh parter bisnis yang menguntungkan, mencari modal, dan lain sebagainya.
Baik buruh maupun pengusaha punya tugasnya masing-masing. Semuanya berjalan dalam suatu sistem dimana satu sama lain saling membutuhkan. Saat suatu bagian hilang, maka sistem itu bisa hancur. Semuanya bagai suatu mata rantai yang saling menguatkan. Sayangnya dalam praktik nyata, seringkali para pengusaha merasa mereka lebih berarti daripada si buruh. Pengusaha merasa dirinya lebih pintar, lebih berjasa, lebih berharga daripada buruhnya. Lebih pintar dalam artian hanya karena kepintaran si pengusaha lah maka perusahaan bisa menjadi besar. Lebih berjasa dalam artian hanya karena kerja keras si pengusaha inilah perusahaan bisa sukses. Lebih berharga dalam artian hanya si pengusahalah yang berhak diberi penghargaan tinggi dan mendapat bagian yang jauh lebih besar daripada semua buruh-buruhnya. Para pengusaha seringkali merasa buruh hanyalah robot, bukan manusia. Buruh dianggap sebagai benda yang bisa dipekerjakan sesuka hatinya. Saat perusahaan mengalami kerugian, buruhlah yang pertama kali merasakan deritanya lewat pemecatan dengan dalih menghemat anggaran. Para pengusahapun seringkali berpikiran demikian:
"Salah sendiri mereka bodoh, makanya cuma bisa jadi buruh, saya kan pintar, makanya jadi pengusaha"
Si buruh pun digaji dengan sangat kecil. Dari salah satu film dokumenter yang pernah saya lihat, berjudul "New Rules of The World", perusahaan-perusahaan sepatu kenamaan dunia sengaja membangun pabrik-pabriknya di negara dunia ketiga (seperti Cina, India, dan tentu saja Indonesia), dimana di negara ini buruh dihargai dengan sangat kecil. Bahkan dari salah satu contoh yang diberikan di film itu, salah satu perusahaan sepatu kenamaan dunia yang menjual satu pasang sepatunya dengan harga ratusan bahkan ribuan dollar menggaji para buruhnya dengan sangat kecil, bahkan tak cukup untuk sekedar membeli tali sepatu, sedangkan ratusan bahkan ribuan pasang sepatu telah tercipta salah satunya berkat kerja keras si buruh ini. Parahnya lagi, si perusahaan justru lebih rela mengeluarkan uang jutaan dollar untuk membayar seorang artis maupun atlit dunia hanya untuk mengenakan sepatu ciptaan perusahaan. Tak hanya itu, buruh-buruh ini pun seringkali dipekerjakan dengan tidak manuasiawi (mungkin karena para pengusaha ini tidak menganggap mereka adalah manusia) dengan waktu kerja yang sangat panjang bahkan bisa sampai lebih dari 24 jam dalam satu hari kerja. Yang berarti tak ada waktu istirahat sama sekali bagi si buruh. Tempat kerja si buruh pun dibuat sesederhana mungkin demi menghemat biaya, buruh perusahaan sepatu menjahit sepatu dengan berdiri dibawah lampu yang cukup membuat suasana begitu gerah sedangkan si pengusaha bekerja di ruangan ber-AC dengan kursi yang empuk serta hidangan lezat yang tersedia bagi mereka setiap waktu. Dan tebak, dimanakah si pembuat film dokumenter ini menemukan hal ini? INDONESIA!! Ya, di negara kita ini. Di negara tempat tinggal kamu berada sekarang ada sebuah tempat dimana ada orang-orang yang satu bangsa dengan kamu sedang diperbudak. Diperbudak oleh orang asing dan juga orang satu negeri sendiri. Tapi tak hanya di Indonesia hal ini terjadi, di berbagai belahan dunia lain hal ini juga terjadi. Indonesia hanyalah satu contoh.
Masih kurang dengan contoh diatas? Oke, aku kasih contoh lagi. Kakak kandungku saat ini kerja di salah satu perusahaan nasional yang bergerak di bidang usaha yang berbahan dasar minyak kelapa sawit. Tak perlu saya sebut nama perusahaannya. Di perusahaan ini para buruh digaji sangat kecil, walaupun dalam pekerjaannya mereka seringkali mempertaruhkan nyawa akibat banyaknya zat-zat kimia berbahaya yang masuk kedalam tubuh mereka saat mereka bekerja. Kata kakakku, bahkan saat lebaran kemarin, para buruh kasar hanya mendapat bonus THR sebotol sirup untuk empat orang. Tak hanya di perusahaan itu, dulu ayahku bekerja untuk salah satu perusahaan pembangkit listrik milik asing di paiton probolinggo. Kebetulan ayahku tahu langsung berapa keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dari keuntungan tersebut, ternyata yang masuk untuk negara kita (untuk gaji buruh yang terdiri dari orang-orang kita, untuk pajak, dll) sangatlah kecil. Aku lupa berapa persen tepatnya, tapi seingatku tak sampai 10 persen. Padahal sebagian besar SDA dan SDM (buruh) berasal dari negeri kita. Hal ini juga mengingatkan kita pada kasus Freeport dimana kekayaan bangsa kita dikuras oleh perusahaan asing. Negeri kita justru hanya dapat kerusakan alamnya saja. Ada lagi contoh sederhana yang dapat dengan mudah kita temukan. Kamu pasti tau tukang kan? Ya, maksudku memang yang itu, orang-orang yang dipekerjakan untuk membangun atau merenovasi suatu bangunan. Tukang pasti punya mandor. Orang yang menghubungkan si tukang dengan si pemesan jasa pembangunan. Si tukang ini yang bekerja dengan sangat keras bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya dalam membangun sebuah bangunan. Sedangkan si mandor hanya bekerja menyuruh si tukang ini. Tapi ternyata gaji si tukang justru lebih kecil dari si mandor. Padahal jelas-jelas si tukang lebih berjasa dalam pembangunan tersebut. Contoh lain? Outsourcing. Kalau kamu ga tau artinya biar aku jelasin dulu. Outsourcing itu sistem kontrak pegawai. Dimana apabila ada perusahaan yang membutuhkan pegawai, perusahaan ini bisa menghubungi perusahaan penyedia pegawai untuk mengontrak beberapa pegawai. Nantinya pegawai ini akan bekerja di perusahaan yang meminta pegawai ini. Namun perusahaan ini tidak secara langsung menggaji pegawai kontrakan tersebut, melainkan harus lewat perusahaan yang meyediakan pegawai tersebut. Dengan kata lain gaji mereka akan terpotong oleh si perusahaan penyedia pegawai. Ini jelas tidak adil, seharusnya pegawai berhak penuh atas apa yang mereka kerjakan. Sedangkan si perusahaan penyedia pegawai seharusnya tidak berhak mengambil dari apa yang tidak ia kerjakan.
Saya rasa cukup dengan contoh yang saya berikan. Itu baru contoh yang membawa penderitaan bagi manusia, belum yang membawa penderitaan bagi alam, seprti kerusakan lingkungan, punahnya satwa langka akibat perbuatan perusahaan yang tidak bertanggung jawab, dan penderitaan lain yang ditimbulkan oleh para pengusaha tamak ini. Yang jadi masalah utama adalah bagaimana hal ini bisa terjadi. Apakah ketika seseorang sudah punya ilmu yang tingggi, sudah sukses membangun perusahaan, sudah berhasil menghasilkan lembaran-lembaran uang yang begitu banyak, akan kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya? Apakah ia akan memandang orang yang bodoh, miskin, dan lemah hanya sebagai sebuah robot. Bukan sebagai manusia. Apakah ia sudah lupa kalau ia tidak berhasil sendirian, ia berhasil karena bantuan orang lain, salah satunya bantuan orang yang ia anggap bodoh, miskin dan lemah tadi? Mungkin iya. Mungkin kekayaan telah membutakan matanya. Perusahaan menjadi lebih berharga daripada manusia. Sebagaimana prinsip ekonomi :"Dengan modal yang sekecil-kecilnya, untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", bahkan sampai memperbudak manusia untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Ketamakan ini mungkin adalaha salah satu penyebab berbagai tindakan yang hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, tanpa peduli terhadap orang lain, apalagi terhadap lingkungan maupun hewan. "Kerakusan menimbulkan Kerusakan". Itulah yang bisa saya simpulkan dari berbagai peristiwa diatas. Menurutku, penyebab utama berbagai kejahatan di muka bumi ini adalah kerakusan. Rakus mengumpulkan uang maupun rakus mencari jabatan telah menyebabkan orang lain yang justru menderita. Karena sifat rakus ini, seseorang merasa harus memiliki lebih daripada orang lain dan hal ini tidak akan ada habisnya sampai semua yang ada di bumi ini hancur akibat tindakannya.
- Tokoh Virus dalam film 3 Idiots berkata "Life is a race".
- Charles Darwin mempopulerkan salah satu teorinya tentang Seleksi Alam.
Dari dua hal ini seringkali kita berlomba-lomba dalam hidup ini untuk menjadi yang paling kuat, paling pintar dan paling kaya agar dapat bertahan hidup. Yang lemah, miskin, dan bodoh akan tersingkir dan kemudian mati dengan mengenaskan. Tapi menurutku, sesungguhnya Charles Darwin salah, kalau benar Seleksi Alam akan menyeleksi mahluk-mahluk yang lemah, maka seharusnya hari ini kita tidak mungkin bisa melihat semut, ulat, lalat, amoeba, ikan teri, dan mahluk-mahluk kecil yang jelas lebih lemah daripada gajah, elang, harimau, badak, dan mahluk besar lain. Bahkan bisa dibilang mahluk-mahluk besar tadi justru saat ini yang menjadi mahluk langka dan dijaga kelestariannya jika dibandingkan dengan mahluk kecil tadi. Kalau hewan saja masih bisa hidup damai meskipun ada yang kuat dan ada yang lemah, mengapa manusia justru saling bertarung untuk merebut uang, kekuasaan, ilmu. Semua manusia pasti diciptakan bukan hanya sekedar untuk main-main. Setiap manusia diciptakan berbeda dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada orang-orang yang dianugerahi kepintaran lebih dan ada pula yang dianugerahi kekuatan fisik lebih. Dan dari kepintaran tersebut pun ada bermacam-macam, ada orang yang pintar memikirkan konsep, ada yang pintar dalam pengerjaan. Semua sifat manusia ini semuanya dibutuhkan dan sama pentingnya. Perbedaan itulah yang melengkapi hidup ini. Jangan sampai ada salah satu pihak yang merasa lebih berarti dibanding yang lain. Menyanggah perkataan Virus dalam film 3 Idiots, saya katakan "Life is not a race, life is runnning together". Kita sebagai manusia memang sudah semestinya saling bahu-membahu dan saling membantu untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.
Dari sini, saya tidak bermaksud melarang siapapun untuk menjadi pengusaha. Saya tidak punya hak untuk melarang siapapun untuk menjadi apapun. Pengusaha tetaplah merupakan bagian penting dari kehidupan. Namu satu hal yang ingin saya katakan, janganlah jadi pengusaha yang kehilangan rasa kemanusiaan. Jadilah pengusaha yang tetap manusia. Hargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Janganlah merasa menjadi yang paling berarti. Semua manusia punya perannya masing-masing. Ada manusia yang menjadi presiden, menteri, guru, penyanyi, pemain sepak bola, tukang, desainer, animator, pemain film, pengusaha, penulis, dokter, petani, buruh, agamawan, ilmuwan, programmer, penjahit, sopir, pengacara, hakim, polisi, tentara, pedagang, dan lainnya. Semuanya sama-sama berarti. Semuanya dibutuhkan di dunia ini. Jangan hanya karena kau lebih pintar dan kau telah berhasil menjadi pengusaha kau merasa lebih baik daripada sopir taksi. Kalau tidak ada yang mau jadi sopir taksi bagaimana kau bisa pergi dari bandara ke tempat meeting dengan cepat? Tugas kita hanyalah menghargai setiap orang dan membantu mereka agar tetap dapat hidup dengan layak dan nyaman di bumi ini. Jangan sampai ada diantara mereka yang menderita dan diperbudak oleh orang lain.
Bahkan hewan saja dapat tetap terjaga eksistensinya walaupun beberapa hewan adalah pemangsa dan beberapa yang lainnya adalah mangsa. Tapi hal ini tidak pernah menyebabkan hewan punah. Kepunahan hewan hanya terjadi karena tingkah laku serakah manusia. Seharusnya manusia yang berakal bisa bertindak lebih baik daripada hewan.
"Kesuksesan bukan dilihat dari apa jenis pekerjaanmu, tapi apa yang berhasil kau lakukan dengan pekerjaanmu"
Jumat, 04 Februari 2011
Hai Kau Para Pengusaha
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar