
Tulisan dibawah ini diekspor langsung dari note di akun facebook-ku. Ini note pertamaku.
Tulisan ini murni tulisan saya yang didasari atas pemikiran-pemikiran kakak kandung saya. Kali ini yang saya akan membicarakan tentang tanah. Tentu saja saya tidak akan membahas tentang struktur tanah ataupun zat-zat yang terkandung dalam tanah, karena saya yakin ada yang pasti jauh lebih paham dari saya. Saya ingin mengkritisi sebuah pemahaman yang sekarang sudah menjadi sesuatu yang umum dikalangan setiap orang. Namun ternyata kalau kita pikir lebih dalam lagi, ini merupakan pemahaman yang tidak logis sama sekali. Apa itu? Saya jelaskan lebih lanjut di paragraf berikutnya.
Saya yakin teman-teman atau paling tidak orang tua teman-teman menempati atau tinggal di suatu rumah yang berdiri di atas tanah. Teman-teman mungkin membeli tanah tersebut lalu kemudian didirikanlah bangunan, ataupun langsung membeli bangunan yang telah berdiri di atas tanah, atau juga mengontrak bangunan. Tujuannya sudah jelas, yakni untuk ditinggali, untuk menghindari dari panas dan dingin cuaca. Namun beberapa orang ternyata "memiliki" tanah berhektar-hektar, namun ada juga orang yang tidak "memiliki" tanah sama sekali. Kenapa disini saya memberikan tanda petik (") pada kata memiliki? Akan saya jelaskan lebih lanjut di paragraf berikutnya. Yang saya anggap aneh dan sangat tidak masuk akal adalah kata-kata "memiliki" tanah. Saya yakin pasti teman-teman percaya kalau bumi ini, termasuk tanah di dalamnya, tidak serta-merta ada, namun pasti ada yang menciptakan. Dan saya yakin teman-teman pasti tidak percaya kalau manusialah yang menciptakan tanah, lalu dimanfaatkannya sendiri. Saya percaya kalau yang menciptakan tanah sebagai tempat manusia hidup adalah Tuhan, yang saya yakin adalah Allah SWT. Hal yang aneh adalah kenapa tiba-tiba bisa muncul seorang manusia yang mengatakan kalau dirinya memiliki tanah dengan luas tertentu? Memangnya dia menciptakan sendiri tanah untuknya? Atau apakah Tuhan-lah yang memberikan tanah secara khusus kepadanya dengan bukti sertifikat tanah? Kalau menurut saya, tidak mungkin. Manusia tidaklah mungkin memiliki tanah, karena tanah bukanlah buatannya. Lalu bagaimana asal mulanya seseorang bisa memiliki sebidang tanah. Mereka mungkin mengatakan kalau mereka membelinya. Tapi membeli dari siapa? Memangnya Tuhan menjual tanahnya kepada mereka? Bukankah itu sangat aneh? Buat apa Tuhan perlu menjual tanah kepada manusia? Memangnya Tuhan butuh uang? Lantas darimana tiba-tiba manusia bisa meng-klaim kalau mereka memiliki tanah dengan luas tertentu? Saya sendiri tidak mengerti bagaimana mulanya manusia bisa memilikinya.
Mungkin teman-teman bertanya kenapa saya perlu mempermasalahkan sesuatu yang sudah sangat lama berlangsung ini, bukankah kita selama ini sudah baik-baik saja dengan keadaan seperti itu? Sudah saya katakan kalau hal ini merupakan hal yang sudah dianggap wajar oleh setiap orang, namun memiliki logika yang aneh. Dengan demikian saya yakin kalau ini adalah sesuatu yang salah. Dan sesuatu yang salah tidaklah mungkin kita biarkan terus-menerus seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin teman-teman juga bertanya lantas apa mau saya dan bagaimana cara memperbaikinya? Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana cara memperbaiki situasi ini, namun setidaknya saya tahu kalau ada yang aneh dengan situasi ini. Namun hal yang saya inginkan adalah kalau setiap manusia di muka bumi ini memiliki hak yang sama atas tanah yang telah Tuhan ciptakan, jadi tidak ada manusia yang memiliki tanah lebih luas dari tanah manusia yang lain hanya karena dia memiliki uang lebih banyak. Seorang petani yang mengerjakan sawah tidak sepatutnya membagi hasil jerih keringatnya kepada seorang "pemilik" tanah yang hanya ber"jasa" dengan "membeli" tanah entah dari siapa, tanpa mengeluarkan setetes keringat pun atas tumbuh suburnya tanaman dari sawahnya.
Memangnya apa yang berbahaya dari situasi ini? Bagi saya sangat berbahaya. Kenapa? Dengan pemahaman yang salah seperti ini, seseorang dapat menguasai permukaan tanah di muka bumi hanya karena ia memiliki uang. Dan seseorang bisa saja hidup luntang-lantung karena ia tidak memiliki uang untuk membeli tanah untuk ditinggali. Seseorang juga dapat mengusir orang lain hanya karena ia merasa "memiliki tanah." Inilah kapitalisme, sesuatu yang sangat berbahaya. Dimana seseorang menjadi layak hidup tenteram di muka bumi hanya karena ia memiliki lebih banyak uang. Seolah-olah uang bisa membeli segalanya, bahkan membeli hidup orang lain. Kapitalisme membuat seseorang menjadi tak berharga hidupnya tanpa memiliki uang. Hal ini mebuat setiap orang menjadi rakus dan melakukan segala cara untuk mencari uang. Hanya uang yang ada dalam pikirannya. Seseorang tidak lagi peduli pada kemanusiaan, alam, kesejahteraan orang lain. Mereka hanya berlomba-lomba mencari uang, sehingga dengan demikian ia merasa bisa menguasai dunia. Dengan demikian seseorang yang tidak memiliki banyak uang dapat dimanfaatkan seenaknya oleh yang lebih ber-uang. Inilah yang menurut saya menjadi penyebab utama berbagai kesengsaraan yang terjadi di muka bumi selama ini. Sekarang sering juga digalakan pengurangan jumlah penduduk, hanya karena rasanya semua kekayaan di bumi ini sudah tidak lagi cukup untuk semua umat manusia. Padahal saya yakin, kalau semua kekayaan di muka bumi ini cukup untuk setiap orang di muka bumi, meskipun jumlahnya milyaran, bahkan trilyunan. Karena saya yakin Tuhan yang telah menciptakan bumi dan planet-planet lain dengan perhitungan yang begitu rumit dan kompleks tidaklah mungkin tidak memperhitungkan jumlah kekayaan dengan jumlah manusia. Namun saya juga yakin kalau seluruh kekayaan di muka bumi ini tidak akan pernah cukup untuk satu orang serakah saja.
Selasa, 04 Januari 2011
Tanah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar